Minggu, 06 Juli 2014

FAKTA UNIK 2 TOKOH PKI



Siapa yang tak kenal dengan 2 tokoh PKI pada gambar diatas ? Ya,mereka adalah Muso dan DN.Aidit Sejarah kelam Indonesia telah mencatat bahwa Muso merupakan tokoh dalam pemberontakan PKI Madiun 1948 sedangkan Aidit merupakan tokoh pemberontakan G/30S PKI 1965.

Muso tewas di kamar mandi setelah terjadi baku tembak dengan anggota TNI yang dipimpin Kapten Sumadi di desa Purworejo pada tanggal 31 Oktober 1948 setelah memproklamirkan Negara Republik Soviet Indonesia pada tanggal 18 September 1948.Beberapa sumber menyebutkan kemudian mayatnya dibawa ke alun-alun lalu dibakar.

Sedangkan DN.Aidit  tertangkap pada tanggal 22 November 1965 bersembunyi dalam ruangan tertutup lemari oleh pasukan Brigadir Infantri IV Kostrad yang dikomandani Kolonel Jasir Hadibroto setelah gagalnya pemberontakan G 30 S/PKI.Keesokan hari setelah penangkapan,Aidit dibawa ke sebuah sumur tua di belakang markas TNI Boyolali dan tewas diberondong dengan senapan Kalashnikov serdadu.Sebelumnya ditembak,Aidit sempat berpidato dengan berapi-api hingga satu magazin peluru menghentikannya.

Namun kali ini saya akan membagikan sebuah fakta yang jarang diketahui oleh khalayak ramai seputar 2 tokoh PKI diatas.Apakah fakta yang jarang diketahui itu ?

Asep Dudinov AR, kompasianer menuliskan buah pikirannya. Dalam buku “Berangkat dari Pesantren” buah karya KH. Saifuddin Zuhri, ia menemukan kisah menarik ihwal Muso dan Aidit, dua gembong PKI (Partai Komunis Indonesia) yang sama sama menjadi tokoh kunci dalama dua peristiwa berbeda.

Beginilah kisahnya yang diringkas dari “Berangkat dari Pesantren.”

Suatu ketika, Muso terlibat perdebatan dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah mengenai adanya Tuhan. Sebagai seorang atheis, Muso tentu saja tak percaya pada Tuhan. Perdebatan pun makin seru dan menjurus kasar karena Muso memang seorang yang emosional.

Muso yang berbadan tegap melawan Kiai Wahab yang pendek lagi kecil, orang orang yang melihat perdebatan pun makin was-was takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Kiai Wahab pun lalu berpikir bahwa tak ada gunanya juga melanjutkan diskusi dengan “orang jahil” semacam Muso ini.

Bukan karena Kiai Wahab takut, untuk seorang Muso saja pasti bisa diselesaikan dengan mudah karena Kiai Wahab yang juga pendekar silat itu pernah menaklukan 3 atau 4 penyamun yang tubuhnya jauh lebih besar dari Muso ketika melakukan perjalanan angker antara Makkah dan Madinah sekitar tahun 1920-1925. Diskusi dengan Muso hanya mengandalkan main jotos dan mulut besar, kiai Wahab merasa buang buang tenaga saja. Senjata manusia adalah akal pikiran dan akhlak mulia, bukan kepalan tinju.

Haji Hasan Gipo (Tanfidziyah NU tahun 1926) mengambil alih tempat Kiai Wahab dalam berdebat dengan Muso. Haji Hasan Gipo terkenal sebagai seorang tokoh NU yang bisa bermain menurut irama gendang. Main halus, ayo. Main kasar, oke. Singkat kata, semua cara bisa ia layani.

Dan Muso pun ditantang untuk bersama Haji Hasan Gipo menghampiri jalan kereta Surabaya-Batavia di dekat Krian (antara Surabaya-Mojokerto) untuk menyambut kereta api ekspres yang sedang berlari kencang dengan batang leher masing masing. Begitu kereta api muncul dalam kecepatan tinggi, keduanya harus meletakkan leher masing masing di atas rel agar digilas lokomotif serta seluruh rangkaian kereta api hingga tubuh mereka hancur berkeping keping.

Nah, dengan jalan demikian, keduanya akan memperoleh keyakinan ainul-yaqin haqqul-yakin tentang adanya Allah Sw.Tapi Muso yang terkenal berangasan dan mudah marah itu dengan badannya yang besar dan kekar seolah menciut saja ditantang seperti itu oleh Haji Hasan Gipo. Muso pun gentar. Ia takut setakut takutnya takut pada tantangan itu.

Sedangkan Aidit pernah kena skak mat dari KH. Saifuddin Zuhri yang pada waktu itu sedang menjabat menteri agama.

Ceritanya, dalam sidang DPA dibicarakan ihwal membasmi hawa tikus yang merusak tanaman padi di sawah, D. N Aidit dengan sengaja melancarkan pertanyaan dengan nada sindiran. Padahal, waktu itu tempat duduk KH. Saifuddin Zuhri dengan Aidit hanya berjarak 20 senti meter saja.

“Saudara ketua, baiklah kiranya ditanyakan kepada Menteri Agama yang duduk di sebelah kanan saya ini, bagaimana hukumnya menurut agama Islam memakan daging tikus?”

Saifuddin Zuhri merasa ditantang dengan sindirang beraroma penghinaan itu. Sebagai seorang tokoh partai yang pintar tentunya Aidit paham betul jawaban dari apa yang ia tanyakan tersebut. Tetapi Aidit dengan sengaja mendemonstrasikan antipatinya terhadap Islam. KH. Saifuddin Zuhri pun lantas menjawab dengan tak kalah cerdiknya.

“Saudara ketua, tolong beritahukan kepada si penanya di sebelah kiriku ini bahwa aku ini sedang berjuang agar rakyat mampu makan ayam goreng, karena itu jangan dibelokkan untuk makan daging tikus!”

Tentu saja jawaban yang diberikan KH. Saifuddin Zuhri mengundang gelak para anggota termasuk Bung Karno yang memimpin sidang DPA waktu itu. :D

Itulah sekelumit fakta sejarah yang jarang diketahui oleh orang banyak bahwa ternyata 2 tokoh PKI itu ternyata pernah dibungkam oleh tokoh Kiai NU. :)







kode emoticon komentar
:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n: :o: :p: :q: :r: :s: :t: :u: :v: :w: :x: :y: :z: :ab:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar